10 Jenis Investasi Reksadana yang mudah Cocok bagi Pemula

Aditya

Reksadana Pendapatan Tetap
Foto: Photobyphotoboy/Envato Elements

Pelajari berbagai jenis investasi reksadana yang ideal untuk pemula, menawarkan cara mudah dan aman untuk memulai perjalanan investasi Anda.

Memulai perjalanan investasi bisa terasa menakutkan, terutama bagi para pemula yang belum banyak memiliki pengalaman di pasar keuangan. Reksadana menawarkan solusi yang menarik karena fleksibilitas dan kemudahan pengelolaannya.

Artikel ini akan membahas berbagai jenis reksadana yang cocok bagi pemula, membantu Anda memahami setiap jenis dan bagaimana mereka dapat menjadi langkah pertama yang solid dalam dunia investasi.

Dari reksadana pasar uang hingga reksadana saham, pelajari cara mudah untuk mulai berinvestasi dengan risiko yang terkelola.

Jenis Investasi Reksadana yang Mudah Dicoba

1. Reksadana Pasar Uang

Reksadana Pasar Uang
Foto: FabrikaPhoto/Envato Elements

Reksadana pasar uang adalah tipe investasi yang dikelola dengan memfokuskan pada instrumen pasar uang jangka pendek, umumnya kurang dari satu tahun.

Instrumen yang digunakan biasanya mencakup deposito berjangka, sertifikat deposito, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan Surat Berharga Pasar Ung (SBPU), serta berbagai instrumen pasar uang lainnya.

Meski menawarkan imbal hasil yang relatif rendah, reksadana pasar uang memiliki risiko yang sangat minim, menjadikannya pilihan yang ideal bagi mereka yang ingin menjaga keamanan asetnya.

2. Reksadana Pendapatan Tetap

Reksadana Pendapatan Tetap
Foto: Photobyphotoboy/Envato Elements

Reksadana pendapatan tetap menawarkan tingkat risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan reksadana pasar uang, namun tetap populer di kalangan investor. Investasi jenis ini mengalokasikan paling sedikit 80% dari asetnya ke dalam efek utang atau obligasi.

Tujuan utamanya adalah untuk menghasilkan return yang stabil, menjadikannya pilihan yang sesuai untuk tujuan keuangan jangka menengah, antara tiga sampai lima tahun, terutama bagi investor dengan profil risiko moderat.

3. Reksadana Campuran

Reksadana Campuran
Foto: Freedomtumz/Envato Elements

Reksadana campuran memungkinkan alokasi dana ke dalam beragam instrumen investasi, termasuk pasar uang, obligasi, dan saham. Hal ini dilakukan oleh manajer investasi dengan tujuan untuk mengoptimalkan potensi keuntungan.

Reksadana jenis ini dapat menawarkan imbal balik yang stabil dan risiko yang dapat dikelola dengan baik. Manajer investasi bertanggung jawab untuk memonitor kinerja setiap instrumen dan mengalihkan dana dari instrumen yang kurang perform ke yang lebih menguntungkan.

Baca Juga:  Membongkar Rahasia Sukses Investasi Jangka Panjang

Jenis investasi ini paling cocok untuk jangka waktu empat sampai tujuh tahun dan sangat sesuai bagi investor yang memiliki profil risiko moderat.

4. Reksa Dana Saham

Reksa Dana Saham
Foto: Wutzkoh/Envato Elements

Reksa Dana Saham dikenal memiliki potensi pengembalian yang paling tinggi dibandingkan jenis reksa dana lainnya. Berdasarkan data rata-rata industri selama sepuluh tahun terakhir, jenis reksa dana ini memberikan pengembalian tahunan sekitar 18 persen.

Manajer investasi mengalokasikan dana investor ke dalam berbagai saham, yang cenderung memiliki fluktuasi harga dan risiko tinggi.

Oleh karena itu, investasi dalam reksa dana saham sebaiknya dilakukan untuk jangka waktu yang panjang, idealnya lebih dari lima tahun. Jenis investasi ini cocok untuk tujuan jangka panjang seperti persiapan dana pensiun atau biaya pendidikan anak.

Namun, untuk kebutuhan jangka pendek seperti uang muka rumah dalam enam bulan, reksa dana saham bukanlah pilihan yang tepat.

Berdasarkan pengalaman selama krisis finansial di tahun 1998 dan 2008, reksa dana saham membutuhkan waktu kira-kira dua tahun untuk pulih kembali.

5. Reksa Dana Indeks

Reksa Dana Indeks
Foto: Campaign Creators/Unsplash

Reksa Dana Indeks adalah jenis reksa dana yang portofolio investasinya berbasis pada indeks tertentu yang juga menjadi acuan kinerjanya. Dalam pengelolaannya, manajer investasi bisa menggunakan indeks saham atau obligasi.

Sebagai contoh, jika manajer investasi memilih menggunakan indeks LQ 45 yang terdiri dari 45 saham likuid di bursa, maka isi dari reksa dana indeks tersebut akan mereplikasi saham-saham yang terdapat dalam LQ 45 tersebut.

Berbeda dengan reksa dana saham yang menerapkan strategi aktif dengan transaksi jual beli saham yang sering untuk mengalahkan indeks, manajer investasi pada reksa dana indeks menggunakan strategi pasif dengan hanya membeli dan menyimpan saham.

Tujuannya adalah agar imbal hasil reksa dana tersebut tidak jauh berbeda dari kinerja indeks acuan. Reksa dana indeks ini tersedia secara terus menerus, tidak dibatasi oleh periode tertentu seperti halnya reksa dana terproteksi.

6. Reksa Dana Terproteksi (Capital Protected Fund)

Reksa Dana Terproteksi
Foto: FabrikaPhoto/Envato Elements

Reksa Dana Terproteksi memiliki karakteristik yang serupa dengan deposito, seperti periode jatuh tempo yang pasti, pembagian keuntungan secara berkala, dan pada umumnya, nilai pokok investasi yang terjaga saat jatuh tempo.

Baca Juga:  Kenali Potensi dalam Pelindungan Aset Anda Dalam Investasi Emas

Meskipun keduanya mengandalkan obligasi, terdapat perbedaan signifikan antara reksa dana obligasi dan reksa dana terproteksi.

Dalam reksa dana terproteksi, manajer investasi menerapkan strategi investasi yang bersifat pasif, yaitu dengan membeli obligasi dan mempertahankannya sampai jatuh tempo.

Jika penerbit obligasi memenuhi kewajibannya dan membayar utangnya, pemegang unit reksa dana terproteksi akan menerima kembali pokok investasinya.

Berbeda dengan reksa dana obligasi yang biasanya dikelola secara aktif, di mana manajer investasi sering melakukan transaksi jual beli obligasi.

Hal ini memungkinkan manajer investasi tidak hanya mendapat keuntungan dari kupon obligasi, tetapi juga dari selisih harga transaksi.

Dinamika ini menyebabkan nilai reksa dana obligasi bisa berfluktuasi. Reksa dana terproteksi biasanya tidak ditawarkan secara terus-menerus, melainkan hanya pada periode tertentu.

7. Reksa Dana Syariah

Reksa Dana Syariah
Foto: Chartchaik1/Envato Elements

Reksa dana syariah dirancang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, yang melarang investasi di sektor-sektor yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti perbankan yang berbasis bunga atau industri alkohol.

Lebih dari sekadar mencari keuntungan, investasi syariah juga menitikberatkan pada tanggung jawab sosial, atau Social Responsibility Investment.

Ini mencakup menghargai perusahaan yang bertanggung jawab sosial, seperti yang terlibat dalam pelestarian lingkungan, dan yang tidak melakukan diskriminasi.

Berbeda dengan metode konvensional, investasi syariah memerlukan proses screening atau penyaringan untuk memastikan bahwa saham, obligasi, atau instrumen lainnya sesuai dengan prinsip syariah.

Produk syariah juga di bawah pengawasan Dewan Pengawas Syariah, berbeda dengan produk konvensional.

Selain itu, jika terdapat unsur non-syariah dalam investasi, proses pemurnian atau cleansing dilakukan, di mana hasil yang tidak sesuai prinsip syariah seperti bunga bank, disumbangkan untuk tujuan yang lebih sesuai.

8. Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT)

Reksa Dana Penyertaan Terbatas
Foto: CharliePix/Envato Elements

Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT) adalah jenis reksa dana yang mengalokasikan dana investasinya pada sektor riil, khususnya dalam bentuk proyek-proyek.

RDPT dirancang sebagai sarana penghimpunan dana dari investor profesional dan dikelola oleh manajer investasi yang menginvestasikan dana tersebut dalam proyek-proyek infrastruktur dan sektor riil lainnya.

Baca Juga:  Membongkar Rahasia Sukses Investasi Jangka Panjang

Investasi minimal dalam RDPT cukup besar, yaitu sekitar Rp 5 miliar, yang menunjukkan bahwa ini ditujukan bagi investor yang memiliki kapasitas finansial yang besar dan kemampuan untuk menganalisis risiko investasi secara mendalam.

Berbeda dengan reksa dana konvensional yang tersedia untuk publik luas, RDPT hanya dapat diikuti oleh maksimal 50 investor, menjadikannya lebih eksklusif.

9. Dana Investasi Real Estat (DIRE)

Dana Investasi Real Estat (DIRE)
Foto: Prathanchorruangsak/Envato Elements

Di berbagai negara, produk ini lebih dikenal sebagai Real Estate Investment Trust (REIT). DIRE merupakan kumpulan dana dari para investor yang dialokasikan untuk investasi dalam aset real estat, yang mencakup bangunan, gedung, tanah, serta saham dan obligasi dari perusahaan yang terkait dengan sektor properti.

Manajer investasi yang mengelola reksa dana ini bertugas membeli dan mengelola properti tersebut. Penilaian dari nilai aktiva bersih reksa dana ini dilakukan oleh penilai independen, memastikan transparansi dan keakuratan dalam penilaian aset.

10. Exchange Traded Fund (ETF)

Exchange Traded Fund (ETF)
Foto: Firmbee.com/Unsplash

Exchange Traded Fund (ETF) adalah jenis produk investasi yang strukturnya mirip dengan reksa dana, namun unit penyertaannya diperdagangkan di bursa saham seperti layaknya saham.

Portofolio dari ETF umumnya berisi saham-saham yang merupakan bagian dari sebuah indeks tertentu. Misalnya, jika seorang investor membeli ETF yang berbasis indeks LQ 45, maka ia secara otomatis memiliki saham pada 45 perusahaan yang termasuk dalam indeks tersebut.

Harga dari ETF ini ditampilkan dan berfluktuasi selama jam operasional bursa, serupa dengan saham biasa, sehingga harga ETF dapat naik atau turun tergantung pada kondisi pasar.

Investasi reksadana menawarkan jalan yang relatif aman dan mudah bagi pemula untuk terjun ke dalam dunia investasi.

Dengan memilih jenis reksadana yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan Anda, Anda dapat memulai perjalanan investasi tanpa harus menjadi ahli di pasar keuangan.

Semoga penjelasan tentang jenis-jenis reksadana yang cocok untuk pemula ini dapat membantu Anda mengambil langkah pertama dengan percaya diri. Ingat, setiap langkah kecil dalam investasi adalah bagian dari pembelajaran menuju kebebasan finansial di masa depan.

Rekomendasi

Bagikan:

Tags